Ingi berbagi sedikit pengalaman, suka duka, dan ide yang saya dapatkan. entah itu didalam sbuah kendaraan, ketika menatapi senja ditepi pantai atau dari kesibukan ruangan kantor yang padat. Mari berbagi, saling isi saling belajar. untuk hidup menuju kebenaran yang hakiki...
Selasa, 28 April 2009
kutelah sampai pada saat...
Senin, 20 April 2009
Ga selamanya sendiri itu sedih dan berdua itu bahagia
Selama ini aku berpikir sendiri itu menyedihkan, ternyata tidak juga . Mungkin saat aku sendiri aku kurang bisa menghargai waktu yang kumiliki untuk diriku sendiri.
Ketika aku berdua, aku merasa asing harus berbagi wilayah pribadiku dengan orang yang kuijinkan masuk dalam hidupku. Aneh memang, tapi sepertinya aku belum terbiasa membaginya dengan orang lain. Aku masih ingin menguasai diriku sendiri. Aku belum puas menikmati kebebasan itu.
Sampai pada akhirnya dengan berbagai dilema yang datang aku memutuskan untuk menjadikannya sebuah kenangan. Aku lelah dihujani aturan, aku lelah diubah, aku lelah menjadi dewasa, aku lelah mengerti tanpa pamrih, aku lelah memahami tanpa dipahami
Akhirnya:
Dihari ini smua berakhir sudah
Kita berpisah baik-baik saja
Jangan ingat hal yg membuatmu marah
Apalagi yang membuatmu kecewa
Kenangan indah, kenangan memiliki kesan dihati
Kenangan baik hanya yang membuat kita tersenyum saat kita mengingatnya
Ternyata kita sampai pada jalan yang berlainan arah
Ternyata kita harus memilih pada jalan yang terbaik untuk semua
Cukup banyak waktu yang kita habiskan
Semua tidak akan terbuang percuma
Lambaikan tangan biar pergi lebih mudah
Sungguh senang ku bisa kenal kamu...
Senin, 13 April 2009
Aku Mencari
Senin, 30 Maret 2009
Tak Seindah yang Kulihat
Bukankah kesalahan adalah ajang belajar anak manusia? Smoga kesalahan ini membuatku belajar.
Bukankah pengalaman adalah guru paling berharga? Smoga pengalaman ini menjadikan ku orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Smoga mendung kali ini bukan berarti hujan badai.
Seandainya pun badai itu datang lagi, makanya aku harus siap membangun kembali benteng yang telah dihancurkan.
Bukan sekedar benteng yang terbuat dari pasir, tapi benteng yang lebih kokoh tak mudah goyah ketika diterjang badai kehidupan.
Rabu, 04 Maret 2009
Lihat, Dengar, dan Rasakan

Mungkin itulah mengapa orang berkata "jatuh cinta berjuta rasanya". Mungkin ribuan bahkan jutaan warna inilah yang menimbulkan berbagai macam esensi rasa.
Siapa bilang semua rasa itu indah. Jika cinta hanya diukur dengan keindahan maka kebosanan tak pelak lagi dirasakan. Pahit, manis, asin, asam, gurih, entah rasa yang seperti apalagi yang dapat menggambarkannya. Aku memang baru saja berada didalamnya. Namun dalam waktu yang cukup singkat ini aku bisa merasakan dari manis, pahit, hingga asamnya cinta.
Betapa bencinya aku dicemburui, betapa tidak sukanya aku diatur2, betapa bahagianya ketika ku tahu dia sangat mencintai dan membutuhkan didalam hidupnya. Bukankah impian setiap orang untuk merasa dicintai dan mencintai dalam hidupnya.
Mungkin inilah saatnya perubahan itu datang dalam hidupku.
Seperti yang pernah kukatakan manusia hanya menjalani proses Allah SWT lah yang menentukan akhirnya.
Yang bisa kulakukan hanyalah berjalan menuju akhir yang telah Allah SWT rancang untukku.
Menjemput akhir itu seperti apapun ending cerita hidupku. Setelah kulalui semua proses yang mampu kujalani dan setelah kuambil semua pilihan hidup yang harus aku pilih. Dan setelah kuusahakan semua jalan yang mampu aku lewati. Maka aku menerima smua akhir yang harus aku dapatkan dari setiap proses hidup yang aku jalani. Hidup adalah proses. Kemana pun hidup mengalir maka ia akan berakhir. Seindah atau sepahit apapun ia berakhir maka berkacalah pada proses yang kita jalani.
Rabu, 28 Januari 2009
Impian

Ketika itu aku masih berumur 19 tahun. Tapi rasanya apa yang aku impikan terlalu dewasa untuk umur yang masih begitu muda. Saat itu aku sedang menempuh akhir pendidikan D3ku. Aku mengenalnya secara pribadi, dia mengajarkan aku banyak hal. Dia yang mengenalkankan aku pada apa yang dinamakan bahagia ketika kamu merasakan dibutuhkan.
Mungkin itulah awal dari impianku ini. Sampai saat ini aku masih belum menemukan impian lain yang lebih besar dari keinginanku untuk "memiliki keluarga dan sebuah kafe mungil dengan aku sebagai manajernya".
Mungkin kedengarannya lucu, tapi saat ini dan entah sampai kapan itu adalah impian terbesarku.
Anehnya aku tidak pernah membayangkan dikota, provinsi atau negara manakah aku akan mewujudkan impian itu.
Hal itu bisa terjadi dimana saja. Bisa saja dikota domisili keluargaku Palangka Raya, atau kota yang saat ini aku tempati Yogyakarta, dinegara lain seperti Inggris atau Jepang misalnya, bahkan bisa jadi Jakarta, kota yang mungkin jadi pilihan terakhirku untuk bermukim.
Pada awalnya ini adalah impian yang ingin aku jalani dengan "dia", lelaki yang sampai saat ini masih saja tak bergeming dan merajai hatiku. Apa mungkin aku masih harus menunggunya hingga aku dan dia sama2 berumur 27 tahun? Dimana dia akan memilih siapa pun wanita yang bisa memegang hatinya. Lalu bagaimana aku bisa melewati tahun2 setelah itu jika ternyata aku bukan pilihan hatinya?
Hah.... kok jadi gini ujung2nya. Kelihatannya aku mulai menyusun skenario hidupku.
Ehm... aku pikir jadi sutradara itu enak, ternyata jadi sutradara sekaligus talent dalam film independent tentang hidup yang akan kita jalani itu pusing juga ya! Mau ga mau harus memilih dan setiap pilihan ga pernah bisa diduga, hidup kita akan berakhir seperti apa.
Padahal kata seorang sahabat, aku adalah orang yang sangat menghargai diriku dan bisa menentukan siapa yang pantas atau tidak untuk berada dalam lingkaran hidupku.
Mungkin untuk masalah teman dan persahabatan "feeling"ku tajam dan sudah terasah. Tapi kenapa ketika berhadapan dengan perasaan cinta aku tidak bisa merasakan pilihan apa yang harus aku ambil?
Hati dan logika ku tidak kompak lagi. Mereka punya kubu masing2, hati ingin aku menunggu karena ia tak bisa berpindah dengan mudah. Tapi logika ingin aku meninggalkan kenangan indah itu dan mencari orang yang lebih baik darinya demi kebahagiaanku dan orang2 skelilingku.
Padahal justru saat2 seperti ini aku butuh "feeling" itu, tapi dimana dia menghilang seakan2 tak pernah datang.
Aargggghhh... ternyata impian terbesarku masih kabur.
Sosok pendamping itu masih belum jelas, walau hatiku sudah memilih kandidatnya.
Tapi takdir bukan manusia yang menentukan melainkan Sang Pencipta Semesta yang Esa.
Aku hanya bisa menjalani prosesnya tapi tidak menentukan akhirnya.
Minggu, 11 Januari 2009
Sepi
Sepi...
Apa kata itu begitu menakutkan?
Setiap orang kebingungan mencari teman ketika sepi itu datang dan merajai
Sepi...
Kenapa baru sekarang sakitmya begitu terasa sampai-sampai nafasku seakan terhenti
Jantungku berdatak tapi tanpa arti
Sepi...
Jiwa memberontak seakan ingin lepas dari ragaku
Mencari-cari belahannya yang telah diciptakan entah setelah atau sebelum keberadaannya dibumi.
Sepi...
Dalam hingar bingar bunyi terompet dan meriahnya kembang api
Mengapa makna kata itu yang terasa menyayat hati
Sepi...
Apakah selama ini hatiku mati?
Apa bedanya sendiri, berdua atau berlima sekalipun?
Toh, ujungnya aku akan sendiri lagi merajut waktu hingga saat itu menjemput lagi.
Sepi...
Aku sakit saat tidak ada lagi mereka yang datang dan bercerita tentang hidup dan deritanya.
Aku sakit saat diri kembali sendiri dalam sepi dan detik demi detik masih berputar dalam keheningan.