Ingi berbagi sedikit pengalaman, suka duka, dan ide yang saya dapatkan. entah itu didalam sbuah kendaraan, ketika menatapi senja ditepi pantai atau dari kesibukan ruangan kantor yang padat. Mari berbagi, saling isi saling belajar. untuk hidup menuju kebenaran yang hakiki...
Senin, 13 April 2009
Aku Mencari
Ternyata masih harus mengalah lagi, ternyata membatunya hati terkalahkan oleh tangis seorang bunda yang mengiba. Hati yang tadi sedingin es, mencair menjadi air dan mengalir menuruni lembah keangkuhan. Tak tega rasa hati membuat bunda menangis pilu menahan rasa sesal yang tak terperi. Harus bagaimana lagi, terpaksa ego kukesampingkan. Kabulkan pinta sang bunda untuk mengalah. Berusaha menerimanya kembali, mencintanya lagi, menyayangnya lagi. Tapi akan sampai dimanakah pengorbanan ini? Akan berapa lamakah jalan ini aku lalui? Akankah ada ujung dari sisi yang tak pasti. Adakah sebuah oase untuk ku beristirahat nanti, dibalik kelelahan yang menggelayut dihati. Yang aku sadari, aku masih disini melangkah sendiri, berusaha jalani apa yang aku mulai. Mungkinkah ini resiko yang harus aku tanggung seorang diri. Apakah ini resiko dari pilihan yang aku buat kemarin. Lelah hati tak bisa kujadikan alasan untuk berlari. Harus kuselesaikan ini hingga berakhir diujung nanti. Tuhan... katakan padaku jika Kau maafkan aku telah sakiti banyak hati, telah tumpahkan banyak air mata, telah membatu hati tanpa bisa disentuh lagi. Tuhan... katakan padaku telah kau sisipkan sebuah rencana indah dibalik semua sedih yang menderaku saat ini. Aku percaya akan akhir yang indah kan datang disaat lelahku sudah memuncak, akan ada sebuah kursi santai dan seseorang yang mempersilahkan aku duduk dengan secangkir teh dan setangkup makanan ringan.
Senin, 30 Maret 2009
Tak Seindah yang Kulihat
Mungkin ini hikmah dari melihat lebih jelas. Mungkin memang harus aku lalui lagi jalan pedih berkerikil tajam. Mungkin kali ini harus menyakiti hati rapuh yang butuh sandaran. Mungkin kali ini benar2 belajar egois tanpa keinginan untuk mengalah. Mungkin memang ini jalan yang akan mendewasakan. Mungkin memang pedih ini yang akan membawaku pada sisi yang lebih indah dibalik awan kelabu yang dipayungi mendung.
Bukankah kesalahan adalah ajang belajar anak manusia? Smoga kesalahan ini membuatku belajar.
Bukankah pengalaman adalah guru paling berharga? Smoga pengalaman ini menjadikan ku orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Smoga mendung kali ini bukan berarti hujan badai.
Seandainya pun badai itu datang lagi, makanya aku harus siap membangun kembali benteng yang telah dihancurkan.
Bukan sekedar benteng yang terbuat dari pasir, tapi benteng yang lebih kokoh tak mudah goyah ketika diterjang badai kehidupan.
Bukankah kesalahan adalah ajang belajar anak manusia? Smoga kesalahan ini membuatku belajar.
Bukankah pengalaman adalah guru paling berharga? Smoga pengalaman ini menjadikan ku orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Smoga mendung kali ini bukan berarti hujan badai.
Seandainya pun badai itu datang lagi, makanya aku harus siap membangun kembali benteng yang telah dihancurkan.
Bukan sekedar benteng yang terbuat dari pasir, tapi benteng yang lebih kokoh tak mudah goyah ketika diterjang badai kehidupan.
Rabu, 04 Maret 2009
Lihat, Dengar, dan Rasakan

Ternyata 3 kata memang benar-benar terjadi. Saat ini aku melihat dan merasakan apa yang sedang terjadi dalam hidup. Sebulan yang lalu keluhan terlontar dari bibirku mengenai sepinya duniaku. Dan mataku melihat begitu berwarnanya dunia mereka. Kini aku merasakan warna yang berbeda diduniaku saat cinta datang dan menghampiri duniaku. Tak hanya satu warna saja yang bermain dalam benakku. Tapi ada ratusan bahkan ribuan warna yang saat ini merangkai sebuah lukisan hidup nan indah.
Mungkin itulah mengapa orang berkata "jatuh cinta berjuta rasanya". Mungkin ribuan bahkan jutaan warna inilah yang menimbulkan berbagai macam esensi rasa.
Siapa bilang semua rasa itu indah. Jika cinta hanya diukur dengan keindahan maka kebosanan tak pelak lagi dirasakan. Pahit, manis, asin, asam, gurih, entah rasa yang seperti apalagi yang dapat menggambarkannya. Aku memang baru saja berada didalamnya. Namun dalam waktu yang cukup singkat ini aku bisa merasakan dari manis, pahit, hingga asamnya cinta.
Betapa bencinya aku dicemburui, betapa tidak sukanya aku diatur2, betapa bahagianya ketika ku tahu dia sangat mencintai dan membutuhkan didalam hidupnya. Bukankah impian setiap orang untuk merasa dicintai dan mencintai dalam hidupnya.
Mungkin inilah saatnya perubahan itu datang dalam hidupku.
Seperti yang pernah kukatakan manusia hanya menjalani proses Allah SWT lah yang menentukan akhirnya.
Yang bisa kulakukan hanyalah berjalan menuju akhir yang telah Allah SWT rancang untukku.
Menjemput akhir itu seperti apapun ending cerita hidupku. Setelah kulalui semua proses yang mampu kujalani dan setelah kuambil semua pilihan hidup yang harus aku pilih. Dan setelah kuusahakan semua jalan yang mampu aku lewati. Maka aku menerima smua akhir yang harus aku dapatkan dari setiap proses hidup yang aku jalani. Hidup adalah proses. Kemana pun hidup mengalir maka ia akan berakhir. Seindah atau sepahit apapun ia berakhir maka berkacalah pada proses yang kita jalani.
Mungkin itulah mengapa orang berkata "jatuh cinta berjuta rasanya". Mungkin ribuan bahkan jutaan warna inilah yang menimbulkan berbagai macam esensi rasa.
Siapa bilang semua rasa itu indah. Jika cinta hanya diukur dengan keindahan maka kebosanan tak pelak lagi dirasakan. Pahit, manis, asin, asam, gurih, entah rasa yang seperti apalagi yang dapat menggambarkannya. Aku memang baru saja berada didalamnya. Namun dalam waktu yang cukup singkat ini aku bisa merasakan dari manis, pahit, hingga asamnya cinta.
Betapa bencinya aku dicemburui, betapa tidak sukanya aku diatur2, betapa bahagianya ketika ku tahu dia sangat mencintai dan membutuhkan didalam hidupnya. Bukankah impian setiap orang untuk merasa dicintai dan mencintai dalam hidupnya.
Mungkin inilah saatnya perubahan itu datang dalam hidupku.
Seperti yang pernah kukatakan manusia hanya menjalani proses Allah SWT lah yang menentukan akhirnya.
Yang bisa kulakukan hanyalah berjalan menuju akhir yang telah Allah SWT rancang untukku.
Menjemput akhir itu seperti apapun ending cerita hidupku. Setelah kulalui semua proses yang mampu kujalani dan setelah kuambil semua pilihan hidup yang harus aku pilih. Dan setelah kuusahakan semua jalan yang mampu aku lewati. Maka aku menerima smua akhir yang harus aku dapatkan dari setiap proses hidup yang aku jalani. Hidup adalah proses. Kemana pun hidup mengalir maka ia akan berakhir. Seindah atau sepahit apapun ia berakhir maka berkacalah pada proses yang kita jalani.
Rabu, 28 Januari 2009
Impian

Setelah membaca blog seorang teman jadi pengen ngebahas soal impian . Dalam hidup baru sudah aku jalani selama 23 tahun ini, impian terbesarku baru saja terlintas dipikiran ini ketika aku mengenal dia. Entahlah, apa ini obsesi atau kah impian yang sesungguhnya.
Ketika itu aku masih berumur 19 tahun. Tapi rasanya apa yang aku impikan terlalu dewasa untuk umur yang masih begitu muda. Saat itu aku sedang menempuh akhir pendidikan D3ku. Aku mengenalnya secara pribadi, dia mengajarkan aku banyak hal. Dia yang mengenalkankan aku pada apa yang dinamakan bahagia ketika kamu merasakan dibutuhkan.
Mungkin itulah awal dari impianku ini. Sampai saat ini aku masih belum menemukan impian lain yang lebih besar dari keinginanku untuk "memiliki keluarga dan sebuah kafe mungil dengan aku sebagai manajernya".
Mungkin kedengarannya lucu, tapi saat ini dan entah sampai kapan itu adalah impian terbesarku.
Anehnya aku tidak pernah membayangkan dikota, provinsi atau negara manakah aku akan mewujudkan impian itu.
Hal itu bisa terjadi dimana saja. Bisa saja dikota domisili keluargaku Palangka Raya, atau kota yang saat ini aku tempati Yogyakarta, dinegara lain seperti Inggris atau Jepang misalnya, bahkan bisa jadi Jakarta, kota yang mungkin jadi pilihan terakhirku untuk bermukim.
Pada awalnya ini adalah impian yang ingin aku jalani dengan "dia", lelaki yang sampai saat ini masih saja tak bergeming dan merajai hatiku. Apa mungkin aku masih harus menunggunya hingga aku dan dia sama2 berumur 27 tahun? Dimana dia akan memilih siapa pun wanita yang bisa memegang hatinya. Lalu bagaimana aku bisa melewati tahun2 setelah itu jika ternyata aku bukan pilihan hatinya?
Hah.... kok jadi gini ujung2nya. Kelihatannya aku mulai menyusun skenario hidupku.
Ehm... aku pikir jadi sutradara itu enak, ternyata jadi sutradara sekaligus talent dalam film independent tentang hidup yang akan kita jalani itu pusing juga ya! Mau ga mau harus memilih dan setiap pilihan ga pernah bisa diduga, hidup kita akan berakhir seperti apa.
Padahal kata seorang sahabat, aku adalah orang yang sangat menghargai diriku dan bisa menentukan siapa yang pantas atau tidak untuk berada dalam lingkaran hidupku.
Mungkin untuk masalah teman dan persahabatan "feeling"ku tajam dan sudah terasah. Tapi kenapa ketika berhadapan dengan perasaan cinta aku tidak bisa merasakan pilihan apa yang harus aku ambil?
Hati dan logika ku tidak kompak lagi. Mereka punya kubu masing2, hati ingin aku menunggu karena ia tak bisa berpindah dengan mudah. Tapi logika ingin aku meninggalkan kenangan indah itu dan mencari orang yang lebih baik darinya demi kebahagiaanku dan orang2 skelilingku.
Padahal justru saat2 seperti ini aku butuh "feeling" itu, tapi dimana dia menghilang seakan2 tak pernah datang.
Aargggghhh... ternyata impian terbesarku masih kabur.
Sosok pendamping itu masih belum jelas, walau hatiku sudah memilih kandidatnya.
Tapi takdir bukan manusia yang menentukan melainkan Sang Pencipta Semesta yang Esa.
Aku hanya bisa menjalani prosesnya tapi tidak menentukan akhirnya.
Ketika itu aku masih berumur 19 tahun. Tapi rasanya apa yang aku impikan terlalu dewasa untuk umur yang masih begitu muda. Saat itu aku sedang menempuh akhir pendidikan D3ku. Aku mengenalnya secara pribadi, dia mengajarkan aku banyak hal. Dia yang mengenalkankan aku pada apa yang dinamakan bahagia ketika kamu merasakan dibutuhkan.
Mungkin itulah awal dari impianku ini. Sampai saat ini aku masih belum menemukan impian lain yang lebih besar dari keinginanku untuk "memiliki keluarga dan sebuah kafe mungil dengan aku sebagai manajernya".
Mungkin kedengarannya lucu, tapi saat ini dan entah sampai kapan itu adalah impian terbesarku.
Anehnya aku tidak pernah membayangkan dikota, provinsi atau negara manakah aku akan mewujudkan impian itu.
Hal itu bisa terjadi dimana saja. Bisa saja dikota domisili keluargaku Palangka Raya, atau kota yang saat ini aku tempati Yogyakarta, dinegara lain seperti Inggris atau Jepang misalnya, bahkan bisa jadi Jakarta, kota yang mungkin jadi pilihan terakhirku untuk bermukim.
Pada awalnya ini adalah impian yang ingin aku jalani dengan "dia", lelaki yang sampai saat ini masih saja tak bergeming dan merajai hatiku. Apa mungkin aku masih harus menunggunya hingga aku dan dia sama2 berumur 27 tahun? Dimana dia akan memilih siapa pun wanita yang bisa memegang hatinya. Lalu bagaimana aku bisa melewati tahun2 setelah itu jika ternyata aku bukan pilihan hatinya?
Hah.... kok jadi gini ujung2nya. Kelihatannya aku mulai menyusun skenario hidupku.
Ehm... aku pikir jadi sutradara itu enak, ternyata jadi sutradara sekaligus talent dalam film independent tentang hidup yang akan kita jalani itu pusing juga ya! Mau ga mau harus memilih dan setiap pilihan ga pernah bisa diduga, hidup kita akan berakhir seperti apa.
Padahal kata seorang sahabat, aku adalah orang yang sangat menghargai diriku dan bisa menentukan siapa yang pantas atau tidak untuk berada dalam lingkaran hidupku.
Mungkin untuk masalah teman dan persahabatan "feeling"ku tajam dan sudah terasah. Tapi kenapa ketika berhadapan dengan perasaan cinta aku tidak bisa merasakan pilihan apa yang harus aku ambil?
Hati dan logika ku tidak kompak lagi. Mereka punya kubu masing2, hati ingin aku menunggu karena ia tak bisa berpindah dengan mudah. Tapi logika ingin aku meninggalkan kenangan indah itu dan mencari orang yang lebih baik darinya demi kebahagiaanku dan orang2 skelilingku.
Padahal justru saat2 seperti ini aku butuh "feeling" itu, tapi dimana dia menghilang seakan2 tak pernah datang.
Aargggghhh... ternyata impian terbesarku masih kabur.
Sosok pendamping itu masih belum jelas, walau hatiku sudah memilih kandidatnya.
Tapi takdir bukan manusia yang menentukan melainkan Sang Pencipta Semesta yang Esa.
Aku hanya bisa menjalani prosesnya tapi tidak menentukan akhirnya.
Minggu, 11 Januari 2009
Sepi
SEPI
Sepi...
Apa kata itu begitu menakutkan?
Setiap orang kebingungan mencari teman ketika sepi itu datang dan merajai
Sepi...
Kenapa baru sekarang sakitmya begitu terasa sampai-sampai nafasku seakan terhenti
Jantungku berdatak tapi tanpa arti
Sepi...
Jiwa memberontak seakan ingin lepas dari ragaku
Mencari-cari belahannya yang telah diciptakan entah setelah atau sebelum keberadaannya dibumi.
Sepi...
Dalam hingar bingar bunyi terompet dan meriahnya kembang api
Mengapa makna kata itu yang terasa menyayat hati
Sepi...
Apakah selama ini hatiku mati?
Apa bedanya sendiri, berdua atau berlima sekalipun?
Toh, ujungnya aku akan sendiri lagi merajut waktu hingga saat itu menjemput lagi.
Sepi...
Aku sakit saat tidak ada lagi mereka yang datang dan bercerita tentang hidup dan deritanya.
Aku sakit saat diri kembali sendiri dalam sepi dan detik demi detik masih berputar dalam keheningan.
Sepi...
Apa kata itu begitu menakutkan?
Setiap orang kebingungan mencari teman ketika sepi itu datang dan merajai
Sepi...
Kenapa baru sekarang sakitmya begitu terasa sampai-sampai nafasku seakan terhenti
Jantungku berdatak tapi tanpa arti
Sepi...
Jiwa memberontak seakan ingin lepas dari ragaku
Mencari-cari belahannya yang telah diciptakan entah setelah atau sebelum keberadaannya dibumi.
Sepi...
Dalam hingar bingar bunyi terompet dan meriahnya kembang api
Mengapa makna kata itu yang terasa menyayat hati
Sepi...
Apakah selama ini hatiku mati?
Apa bedanya sendiri, berdua atau berlima sekalipun?
Toh, ujungnya aku akan sendiri lagi merajut waktu hingga saat itu menjemput lagi.
Sepi...
Aku sakit saat tidak ada lagi mereka yang datang dan bercerita tentang hidup dan deritanya.
Aku sakit saat diri kembali sendiri dalam sepi dan detik demi detik masih berputar dalam keheningan.
Rabu, 31 Desember 2008
Akhir Tahun
hari ini akhir dari tahun 2008
apa ya yg akan kita hadapi tahun 2009 nanti?
apa hidupku akan berubah?
apa tahun 2009aku masih sendiri saja atau akan berubah kah?
apa aku bisa melupakan dia?
apa akan datang hal-hal baru dalam hidupku nanti?
aku menantikan seseorang dari tahun kemarin.
apakah dia akan datang ditahun ini?
ahh entahlah..............
Selasa, 02 Desember 2008
ga adil
smuanya kosong.
rindu datang tanpa jeda. memaksa masuk kedalam hati
ahhh knapa cinta hanya bisa menyiksa?
berbagai cacian dan makian ingin kulontarkan tanpa jeda
untuk menutup smua perih yang datang dalam setiap hela.
malam ini aku berbicara dengannya melalui dunia maya.
meski hanya simbol dan kata2 aku bahagia
karena dirinya bahagia
Tuhan kapankah aku bisa meraihnya.
setelah sekian durinya kunikmati
kapan aku bisa merasakan indahnya mawar itu?
aku rindu dirinya.
andai boleh aku berkhayal ada dipeluknya.
namun malam ini cukuplah dengan dunia maya yg menjadi jembatan antara aku dan dia.
aku puas untuk malam ini
hingga rindu itu datang dan kembali mencekam dalam mimpi2ku
rindu datang tanpa jeda. memaksa masuk kedalam hati
ahhh knapa cinta hanya bisa menyiksa?
berbagai cacian dan makian ingin kulontarkan tanpa jeda
untuk menutup smua perih yang datang dalam setiap hela.
malam ini aku berbicara dengannya melalui dunia maya.
meski hanya simbol dan kata2 aku bahagia
karena dirinya bahagia
Tuhan kapankah aku bisa meraihnya.
setelah sekian durinya kunikmati
kapan aku bisa merasakan indahnya mawar itu?
aku rindu dirinya.
andai boleh aku berkhayal ada dipeluknya.
namun malam ini cukuplah dengan dunia maya yg menjadi jembatan antara aku dan dia.
aku puas untuk malam ini
hingga rindu itu datang dan kembali mencekam dalam mimpi2ku
Langganan:
Postingan (Atom)